Tuesday, April 15, 2014

FASE DAN TUGAS PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

A.    FAKTOR PENDORONG TUGAS PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
Sukses atau gagalnya pelaksanaan tugas perkembangan remaja dipengaruhi oleh  beberapa faktor yaitu:
1)      Pertumbuhan fisik remaja. Tugas perkembangan remaja akan sukses bila pertumbuhan  fisik remaja berjalan dengan sewajarnya.
2)      Perkembangan psikis remaja. Perkembangan psikisnya, seperti mental, sikap, perasaannya berkembang dengan wajar.
3)      Posisi remaja dalam keluarga. Kelancaran tugas perkembangan juga banyak dipengaruhi oleh posisinya ditengah keluarga; sebagai anak tunggal atau bukan, anak kandung atau anak angkat, anak pertama atau anak terakhir.
4)      Kesempatan remaja untuk mempelajari tugas-tugas perkembangan. Banyak sedikitnya kesempatan yang dimiliki remaja sangat berpengaruh pada pelaksanaan tugas perkembangan remaja.
5)      Motivasi diri. Ada tidak adanya motivasi, kuat atau lemahnya, atau faktor pendorong yang ada dalam diri seorang remaja akan memperlancar atau menghambat pelaksanaan tugas-tugas perkembangan remaja. Motivasi dapat bersumber dari dalam diri remaja, seperti semangat dan obsesi, dan dari luar diri remaja, seperti penghargaan orangtua atau masyarakat terhadap remaja.
6)      Lancarnya pelaksanaan tugas-tugas perkembangan pada masa sebelumnya. Kelancaran pelaksaan tugas-tugas perkembangan remaja selama masa kanak-kanak atau masa puber akan berpengaruh terhadap kelancaran pelaksaan tugas-tugas perkembangan pada masa berikutnya.
Faktor eksternal lainnya yang mempengaruhi pencapaian tugas perkembangan anak dan remaja atau peserta didik adalah sekolah. Beberapa upaya yang seharusnya diperhatikan pihak sekolah adalah:
1)      Menciptakan iklim religious yang dapat memfasilitasi perkembangan kesadaran beragama, akhlak mulia, etika atau karakter peserta didik.
2)      Membangun suasana sosio-emosional yang kondusif bagi perkembangan keterampilan sosial dan kematangan emosi peserta didik.
3)      Membangun iklim intelektual yang memfasilitasi perkembangan berpikir, nalar, dan kemampuan mengambil keputusan yang baik.
4)      Mengoptimalkan program bimbingan dan konseling untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik.


B.     FASE PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK DAN TUGAS-TUGASNYA
Tugas dan fase perkembangan adalah hal yang pasti bahwa setiap fase atau tahapan perkembangan kehidupan amnusia senantiasa berlangsung seiring dengan kegiatan belajar. Kegiatan belajar dalam hal ini tidak berarti merupakan kegiatan belajar yang ilmiah. Tugas belajar yang muncul dalam setiap fase perkembangan merupakan keharusan universal dan idealnya berlaku secara otomatis, seperti kegiatan belajar keterampilan melakukan sesuatu pada fase perkembangan tertentu yang lazim terjadi pada manusia normal. Disamping itu, hal-hal alin yang juga menimbulkan tugas-tugas perkembangan tersebut adalah:
1.      Karena adanya kematangan fisik tertentu pada fase perkembangan tertentu;
2.      Karena adanya dorongan cita-cita psikologis manusia yang sedang berkembang itu sendiri;
3.      Karena adanya tuntutan kultural masyarakat sekitar.
Dalam rangka memfungsikan tahp-tahap perubahan yang menyertai perkembangannya, manusia harus belajar melakukan kebiasaan-kebiasaan tertentu umpamanya kebiasaan belajar berjalan dan berbicara pada rentang usia 1-5 tahun. Belajar melakukan kebiasaan-kebiasaan tertentu pada saat atau masa perkembangan yang tepat dipandang berkaitan langsung dengan tugas-tugas perkembangan berikutnya.
Tugas-tugas perkembangan tersebut seyogianya selalu diperhitungkan secara cermat oleh para orangtua dan guru sebagai sesuatu yang harus terjadi secara ilmiah dan tepat pada waktunya. Perhatian orangtua dan juga guru (khususnya untuk fase masa sekolah) amat diperlukan, mengingat keberhasilan pelaksanaan tugas perkembangan pada suatu fase akan sangat menunjanng keberhasilan tugas perkembangan pada fase-fase berikutnya.
Adapun mengenai fase-fase perkembangan dan tugas-tugas yang mengiringi fase-fase tersebut, seperti yang telah penyusun utarakan di atas, adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Robert Havigurst (1972) berikut ini.
1)      TUGAS PERKEMBANGAN FASE BAYI DAN KANAK-KANAK
Secara kronologis, masa bayi berlangsung sejak individu manusia dilahirkan dari rahim ibunya sampai berusia sekitar setahun. Sedangkan masa kanak-kanak adalah masa perkembangan berikutnya, yakni dari usia setahun hingga usia sekitar lima atau enam tahun. Perkembangan biologis pada masa ini berjalan pesat, tetapi secara sosiologis ia masih sangat terikat oleh lingkungan keluarganya. Oleh karena itu, fungsionalisasi lingkungan keluarga pada fase ini penting sekali untuk mempersiapkan anak terjun ke dalam lingkungan yang lebih luas tertuama lingkungan sekolah.
Tugas-tugas perkembangan pada fase ini meliputi kegiatan-kegiatan belajar sebagai berikut:
1.      Belajar memakan makanan keras, misalnya mulai dengan bubur susu, bubur beras, nasi, dan seterusnya;
2.      Belajar berdiri dan berjalan, misalnya mulai dengan berpegang pada tembok atau sandaran kursi;
3.      Belajar berbicara, misalnya mulai dengan menyebut kata ibu, ayah, dan nama-nama benda sederhana yang ada di sekelilingnya;
4.      Belajar mengendalikan pengeluaran benda-benda buangan dari tubuhnya, misalnya mulai dengan meludah, membuang ingus dan seterusnya;
5.      Belajar membedakan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan, dan bersopan santun seksual;
6.      Mencapai kematangan untuk belajar membaca dalam arti mulai siap mengenal huruf, suku kata dan kata-kata tertulis;
7.      Belajarmengadakan hubungan emosional selain dengan ibunya, dengan ayah, saudara kandung, dan orang-orang di sekelilingnya; dan
8.      Belajar membedakan antara hal-hal yang  baik dengan yang buruk, juga antara hal-hal yang benar dan salah, serta mengembangkan atau membentuk kata hati (hati nurani).
2)      TUGAS PERKEMBANGAN FASE ANAK-ANAK
Masa anak-anak berlangsung antara usia 6-12 tahun dengan ciri-ciri utama sebagai berikut:
1.      Memiliki dorongan untuk keluar rumah dan memasuki kelompok sebaya
2.      Keadaan fisik yang memungkinkan/ mendorong anak memasuki dunia permainan dan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan jasmani
3.      Memiliki dorongan mental untuk memasuki dunia konsep, logika, simbol, dan komunikasi yang luas.
Adapun tugas-tugas perkembangan pada masa perkembangan kedua ini meliputi kegiatan belajar dan mengembangkan hal-hal sebagai berikut:
1.      Belajar keterampilan fisik yang diperulukan untuk bermain, seperti lompat jauh, lompat tinggi, mengejar, menghindari kejaran, dan seterusnya;
2.      Membina sikap yang sehat (positif) terhadap dirinya sendiri sebagai seorang individu yangs edang berkembang, seperti kesadaran terhadap harga diri dan kemampuan diri;
3.      Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya sesuai dengan etika moral yang berlaku di masyarakat;
4.      Belajar memainkan peran sebagai seorang pria (jika ia seorang pria) dan sebagai seorang wanita (jika ia seorang wanita)
5.      Mengembangkan dasar-dasar keterampilan membaca, menulis, dan berhitung;
6.      Mengembangkan konsep-konsep yang diperlukan kehidupan sehari-hari;
7.      Mengembangkan kata hati, moral dan skala nilai yang selaras dengan keyakinan dan kebudayaan yang berlaku di masyarakat;
8.      Mengembangkan sikap objektif/ lugas baik positif maupun negatif terhadap kelompok dan lembaga kemasyarakatan; dan
9.      Belajar mencapai kemerdekaan atau kebebasan pribadi sehingga menjadi dirinya sendiri yang independen (mandiri) dan  bertanggung jawab.
3)      TUGAS PERKEMBANGAN FASE REMAJA
Masa remaja menurut sebagian ahli psikologi terdiri atas sub-sub perkembangan sebagai berikut:
1.      Subperkembangan prepuber selama kurang lebih dua tahun sebelum masa puber;
2.      Subperkembangan puber selama dua setengah sampai tiga setengah tahun;
3.      Subperkembangan post-puber, yakni saat perkembangan biologis sudah lambat tapi masih terus berlangsung pada bagian-bagian organ tertentu. Saat ini merupakan akhir masa puber yang mulai menampakkan tanda-tanda kedewasaan.
Proses perkembangan pada masa remaja lazimnya berlangsung selama kurang lebih 11 tahun, mulai usia 12-21 tahun pada wanita dan 13-22 tahun pada pria. Masa perkembangan remaja yang panjang ini dikenal sebagai masa yang penuh kesukaran dan persoalan, bukan saja bagi si remaja sendiri melainkan juga bagi para orangtua, guru, dan masyarakat sekitar. Bahkan, tak jarang para penegak hukum pun turut direpotkan oleh ulah dan tindak tanduknya yang dipandang menyimpang.
Mengapa demikian? Secara singkat jawabannya ialah karena individu remaja sedang berada di persimpangan jalan antara dunia anak-anak dan dunia dewasa. Sehubungan dengan ini, hampir dapat dipastikan bahwa segala sesuatu yang sedang mengalami atau dalam keadaan transisi dari suatu keadaan ke keadaan lainnya selalu menimbulkan gejolak, goncangan, dan benturan yang kadang-kadang berakibat sangat buruk bahkan fatal.
Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja umumnya meliputi pencapaian dan persiapan segala hal yang berhubungan dengan kehidupan masa dewasa, yakni:
1.      Mencapai pola hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya yang berbeda jenis kelamin sesuai dengan keyakinan dan etika moral yang berlaku di masyarakat;
2.      Mencapai peranan sosial sebagai seorang pria (jika ia seorang pria) dan peranan sosial seorang wanita (jika ia seorang wanita) selaras dengan tuntutan sosial dan kultural masyarakat;
3.      Menerima kesatuan organ-organ sebagai seorang pria (jika ia seorang pria) dan kesatuan organ-organ sebagai seorang wanita (jika ia seorang wanita) dan menggunakannya secara efektif sesuai dengan kodratnya masing-masing;
4.      Keinginan menerima dan mencapai tingkah laku sosial tertentu yang bertanggung jawab di tengah-tengah masyarkatnya;
5.      Mencapai kemerdekaan/kebebasan emosional dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya dan mulai menjadi seorang “person” (menjadi dirinya sendiri);
6.      Mempersiapkan diri untuk mencapai karier (jabatan dan profesi) tertentu dalam bidang kehidupan ekonomi;
7.      Mempersiapkan diri untuk memasuki dunia perkawinan (rumah tangga) dan kehidupan berkeluarga yakni sebagai suami (ayah) dan istri (ibu); dan
8.      Memeproleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman bertingkah laku dan mengembangkan ideologi utnuk keperluan kehidupan kewarganegaraannya.
4)      TUGAS PERKEMBANGAN DEWASA
Masa dewasa awal ialah fase perkembangan saat seorang remaja mulai memasuki masa dewasa, yakni usia 21-40 tahun. Sebelum memasuki masa ini seorang remaja terlebih dahulu berada pada tahap ambang dwasa atau masa remaja akhir yang lazimnya berlangsung 21 atau 22 tahun. Namun, menurut pengamatan para ahli, pada masa post puber proses perkembangan organ-organ jasmaniah tertentu, meskipun sudah sangat lamban, masih terus berlangsung hingga kira-kira usia 24 tahun.
Adapun tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa awal adalah meliputi sebagai berikut:
1.      Mulai bekerja mencari nafakh, khususnya apabila ia tidak melanjutkan karier akademik;
2.      Memilih teman atau pasangan hidup berumah tangga (memilih calon suami atau istri);
3.      Mulai memasuki kehidupan berumah tangga, yakni menjadi seorang suami istri;
4.      Belajar hidup bersama pasangan dalam suasana rumah tangga, yakni dengan istri/suaminya;
5.      Mengelola tempat tinggal untuk keperluan rumah tangga dan keluarganya;
6.      Membesarkan anak-anak dengan menyediakan pangan, sandang, dan papan yang cukup dan memberikan pendidikan (dalam arti luas) yang memadai;
7.      Menerima tanggung jawab kewarganegaraan sesuai dengan perundang-undangan dan tuntutan sosial yang berlaku di masyarakatnya; dan
8.      Menemukan kelompok sosial (perkumpulan kemasyarakatan) yang cocok dan menyenangkan.
5)      TUGAS PERKEMBANGAN SETENGAH BAYA
Masa setengah baya (middle age) adalah masa yang berlangsung antara 40 sampai 60 tahun. Konon, di kalangan tertentu, pria dan wnaita yang sudah menginjak usia 40 tahun ke atas sering dijuluki sebagai orang yang sedang mengalami masa pubertas kedua. Julukan ini timbul karena mereka senang lagi bersolek, suka bersikap dan berbuat emosional/mudah marah, dan bahkan jatuh cinta lagi.
Di kalangan kaum wanita biasanya tampak gejala depresi (murung), cepat tersinggung, cemas dan khawatir kehilangan kasih sayang anak-anak yang sudah mulai menanjak dewasa. Selain itu, wanita setengah baya juga acapakali merasa cemas akan kehilangan suami karena menopause (berhenti menstruasi) yang pada umumnya diiringi dengan timbulnya tanda-tanda atau garis-garis ketuaan di bagian tertentu pada tubuhnya.
Adapun tugas-tugas perkembangan pada fase setengah tua tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Mencapai tanggung jawab sosial dan kewarganegaraan secara lebih dewasa;
2.      Membantu anak-anak yang berusia belasan tahun (khususnya anak kandungnya sendiri) agar berkembang menjadi orang-orang dewasa yang bahagia dan bertanggung jawab;
3.      Mengembangkan aktivitas dan memanfaatkan waktu luang sebaliknya bersama orang-orang dewasa lainnya;
4.      Menghubungkan diri sedemikian rupa dengan pasangannya (dengan suami atau istri) sebagai seorang pribadi yang utuh;
5.      Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan psikologis yang lazim terjadi pada masa setengah baya;
6.      Mencapai dan melaksanakan penampilan yang memuaskan dalam karier;dan
7.      Menyesuaikan diri dengan perikehidupan (khususnya dalam hal cara bersikap dan bertindak) orang-orang yang berusia lanjut.
6)      TUGAS PERKEMBANGAN FASE USIA TUA
Masa tua (old age) adalah fase terakhir kehidupan manusia. Masa ini berlangsung antara usia 60 tahun sampai berhembusnya nafas terakhir (akhir hayat). Mereka yang sudah menginjak umur 60 tahun ke atas yang dalam istilah psikologi disebut “senescence” (masa tua) biasanya ditandai oleh perubahan-perubahan kemampuan motorik yang semakin merosot.
Di antara perubahan-perubahan tersebut adalah menurunnya kekuatan otot-otot tangan dan otot-otot yang menyangkut seluruh tubuh. Oleh karena itu, pada umumnya orangtua lebih cepat merasa lelah, dan untuk mengembalikan kesegaran tubuhnya dari kelelahan itu, ia memerlukan waktu yang lebih lama daripada ketika ia masih berusia muda.
Tugas-tugas perkembangan pada masa tua sesuai dengan berkurangnya kekuatan dan kesehatan jasmaniahnya itu adalah sebagai berikut:
1.      Menyesuaikan diri dengan menurunya kekuatan dan kesehatan jasmaniahnya;
2.      Menyesuaikan diri dengan keadaan pensiun dan berkurangnya income (penghasilan);
3.      Menyesuaikan diri dengan kematian pasangannya (istri atau suaminya);
4.      Membina hubungan yang tegas (afiliasi eksplisit) dengan para anggota kelompok seusianya;
5.      Membina pengaturan jasmani sedemikian rupa agar memuaskan dan sesuai dengan kebutuhannya; dan
6.      Menyesuaikan diri (adaptadi) terhadap peranan-peranan sosial dengan cara yang luwes.

Referensi :
Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan. Cetakan ke-15. Bandung: Rosda
Yusuf, Syamsu. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Aspek-Aspek Psiko-Fisik Perkembangan Peserta Didik

Menurut para ahli, perkembangan ialah proses perubahan kualitatif yang mengacu pada mutu fungsi organ-organ jasmaniah, bukan organ-organ jasmaniahnya itu sendiri.
Aspek-aspek Psiko-Fisik perkembangan peserta didik diantaranya:
a.      Aspek Jasmani dan Intelegensi
Perkembangan motor atau jasmani (fisik), yakni proses perkembangan yang progresif dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan fisik anak (motor skill). Dalam psikologi, kata motor digunakan sebagai istilah yang menunjukkan pada hal, keadaan, dan kegiatan yanng melibatkan otot-otot dan gerakan-gerakannya, juga kelenjar-kelenjar dan sekresinya (pengeluaran cairan/getah). Secara singkat, motor dapat pula dipahami sebagai segala keadaan yang meningkatkan atau menghasilkan stimulasi/rangsangan terhadao kegiatan organ-organ fisik.
Proses perkembangan fisik anak berlangsung kurang lebih selama dua dekade (dua dasawarsa) sejak ia lahir. Semburan perkembangan terjadi pada masa anak menginjak usia remaja antara 12 atau 13 tahun hingga 21 atau 22 tahun.
Ada empat macam faktor yang mendorong kelanjutan perkembangan motor skill anak yang juga memungkinkan campur tangan orangtua dan guru dalam mengarahkannya, yaitu:
1.      Pertumbuhan dan perkembangan sistem syaraf
Sistem syaraf adalah organ halus dalam  tubuh yang terdiri atas struktur jaringan serabut syaraf yang sangat halus yang berpusat di central nervous system, yakni pusat sistem jaringan syaraf yang ada di otak (Reber,1988).
Pertumbuhan syaraf dan perkembangan kemampuannya membuat intelegensi (kecerdasan) anak meningkat dan mendorong timbulnya pola-pola tingkah laku baru. Semakin baik perkembangan kemampuan sistem syaraf seorang anak akan semakin baik dan beraneka ragam pula pola-pola tingkah laku yang dimilikinya, namun organ sistem syaraf apabila rusak tak dapat diganti atau tumbuh lagi.
2.      Pertumbuhan otot-otot
Otot adalah sel-sel yang dapat berubah memanjang dan juga sekaligus merupakan unit atau kesatuan sel yang memilki daya mengkerut. Peningkatkan tonus (tegangan otot) anak dapat menimbulkan perubahan dan peningkatkan aneka ragam kemampuan dan kekuatan jasmaninya. Perubahan ini tampak jelas pada anak yang sehat dari tahun ke tahun dengan semakin banyaknya keterlibatan anak tersebut dalam permainan yang bermacam-macam atau dalam membuat kerajinan tangan yang semakin meningkat kualitas dan kuantitasnya dari masa ke masa.
3.      Perkembangan dan perubahan fungsi kelenjar-kelenjar endokrin
Kelenjar adalah tubuh yang menghasilkan cairan atau getah, seperti kelenjar keringat. Kelenjar endokrin merupakan kelenjar dalam tubuh yang memproduksi hormon yang disalurkan ke seluruh bagian tubuh yang memproduksi hormon yang disalurkan ke seluruh bagian dalam tubuh melalui aliran darah. Perubahan fungsi kelenjar-kelenjar endoktrin akan mengakibatkan berubahnya pola sikap dan tingkah laku seorang remaja terhadap lawan jenisnya. Perubahan ini dapat berupa seringnya melakukan kerjasama dalam belajar atau berolahraga, berubahnya gaya dandanan/penampilan dan lain-lain perubahan pola perilaku yang bermaksud menarik perhatian lawan jenis.
4.      Perubahan struktur jasmani
Semakin meningkat usia anak akan semakin meningkat pula ukuran  tinggi dan bobot serta proporsi (perbandingan bagian) tubuh pada umumnya. Perubahan jasmani ini akan banyak berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan dan kecakapan motor skill anak.  Kecepatan berlari, kecekatan bergerak, kecermatan menyalin pelajaran, keindahan melukis, dan sebagainya akan terus meningkat seiring dengan proses penyempurnaan struktur jasmani siswa. Perkembangan fisik siswa lebih signifikansi daripada usia kronologisnya sendiri. Timbulnya kesadaran seorang siswa yang berbadan terlalu besar dan tinggi atau terlalu kecil dan rendah jika dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya mungkin sekali akan mempengaruhi pola sikap dan perilakunya baik ketika berada di dalam kelas maupun di luar kelas.
Intelegensi menurut para ahli diantaranya menurut Wechler (1958) merumuskan intelegensi sebagai keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Intelegensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan, melainkan suatu fiksi ilmiah untuk mendiskripsikan perilaku individu yang berkaitan dengan kemampuan intelektual. Dalam mengartikan intelegensi (kecerdasan) ini, para ahli mempunyai pengertian yang beragam.
Menurut J.P.Guilford, bahwa tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Sedangkan kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Lebih jauh, Guilford menyatakan bahwa intelegensi merupakan perpaduan dari banyak faktor khusus.
Perkembangan intelegensi Menurut John dan Conrad :
·         Laju perkembangan intelegensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja awal, setelah itu kepesatannya langsung menurun.
·         Puncak perkembangan pada umumnya dicapai dipenghujung masa remaja akhir (sekitar usia 20-an), selanjutnya perubahan-perubahan masa tipis berlangsung sampai dengan usia 50 tahun. Setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai usia 60 tahun untuk selanjutnya berangsur-angsur turun (deklinasi).
·         Terdapat variasi dalam waktu dan laju kecepatan deklinasi menurut jenis-jenis kecakapan tertentu.
b.      Aspek emosi dan bahasa
Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar (learning). Emosi positif seperti perasaam senang, bergairah, bersemangat atau rasa ingin tahu (curiosity) yang tinggi akan mempengaruhi inidividu untuk mengosentrasikan dirinya terhadap akitivas bekerja, seperti memerhatikan penjelasan guru, membaca buku, aktif berdiskusi, mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah, dan disiplin dalam belajar.
Sebaliknya, apabila yang menyertai proses belajar itu emosi yang negatif, seperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah, maka proses belajar tersebut akan mengalami hambatan, dalam arti individu tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar, sehingga kemungkinan besar dia akan mengalami kegagalan dalam belajarnya.
Perkembangan Bahasa yaitu bentuk komunikasi manusia yang paling sempurna daripada binatang, karena manusia dapat melakukannya melalui berbagai sarana dan prasarana yang ada. Tiap individu dituntut untuk memiliki kemampuan menyatakan atau mengekspresikan pikirannya dan menangkap pemikiran orang lain melalui bahasa, sehingga komunikasi menjadi efektif. Anak-anak lebih dapat mengerti apa yang dikatakan orang lain daripada mengutarakan pikiran dan perasaan mereka dengan kata-kata.
Pada masa ini anak-anak sudah dapat membedakan berbagai benda disekitarnya serta melihat hubungan fungsional antara benda-benda tersebut. Disamping itu, penguasaan kosa kata anak juga meningkat pesat. Anak mengucap kalimat yang makin panjang dan bagus, menunjukkan panjang pengucapan rata-rata anak telah mulai menyatakan pendapatnya dengan kalimat majemuk.
Sampai pada masa akhir anak-anak, perkembangan bahasa terus berlanjut. Perbendaharaan kosa kata anak meningkat dan cara anak-anak menggunakan kata dan kalimat bertambah kompleks. Dari berbagai pelajaran yang diberikan di sekolah, bacaan, pembicaran dengan anak-anak lain, serta melalui radio dan televisi, anak-anak menambah perbendaharaan kosa kata yang ia pergunakan dalam percakapan dan tulisan.
Disamping peningkatan dalam jumlah perbendaharaan kata, perkembangan bahasa anak usia sekolah juga terlihat dalam cara anak berpikir tentang kata-kata. Peningkatan kemampuan anak sekolah dasar dalam menganalisis kata-kata, menolong mereka dalam memahami kata-kata  yang tidak berkaitan langsung dengan pengalaman-pengalaman pribadinya. Peningkatan kemampuan analitis terhadap kata-kata juga disertai dengan kemajuan dalam tata bahasa. Anak usia 6 tahun sudah menguasai hampir semua jenis struktur kalimat. Dari usia 6-9 atau 10 tahun, panjang kalimat semakin bertambah. Setelah usia 9 tahun, secara bertahap anak mulai menggunakan kalimat yang lebih singkat dan padat, serta dapat menerapkan berbagai aturan tata bahasa secara tepat
Semakin matang organ-organ yang berkaitan dengan proses berbicara seperti alat bicara dan pertumbuhan/perkembangan otak, anak semakin jelas dalam mengutarakan kemauan, pikiran maupun perasaannya melalui ucapan atau bahasa. Hal itu tidak lepas ari pengaruh lingkungan, terutama orang tua atau keluarga. Anak yang selalu mendapat motivasi positif akan terpacu untuk mengembangkan potensi bicaranya.

c.       Aspek Kepribadian dan Sosial
Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap.
Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun (dalamA.Supratika), yaitu: (1) tahap oral, (2) tahap anal: 1-3 tahun, (3) tahap palus: 3-6tahun, (4) tahap laten: 6-12 tahun, (5) tahap genetal: 12-18 tahun, (6) tahapdewasa, yang terbagi dewasa awal, usia setengah baya dan usia senja (A.Supratika, Op Cit, hal. 56).
Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan Erik Erikson merupakan salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Bersama dengan Sigmund Freud, Erikson mendapat posisi penting dalam psikologi. Hal ini dikarenakan ia menjelaskan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir hingga lanjut usia; satu hal yang tidak dilakukan oleh Freud. Selain itu karena Freud lebih banyak berbicara dalam wilayah ketidaksadaran manusia, teori Erikson yang membawa aspek kehidupan sosial dan fungsi budaya dianggap lebih realistis.
Teori Erikson dikatakan sebagai salah satu teori yang sangat selektif karena didasarkan pada tiga alasan. Alasan yang pertama, karena teorinya sangat representatif dikarenakan memiliki kaitan atau hubungan dengan ego yang merupakan salah satu aspek yang mendekati kepribadian manusia. Kedua, menekankan pada pentingnya perubahan yang terjadi pada setiap tahap perkembangan dalam lingkaran kehidupan, dan yang ketiga/terakhir adalah menggambarkan secara eksplisit mengenai usahanya dalam mengabungkan pengertian klinik dengan sosial dan latar belakang yang dapat memberikan kekuatan/kemajuan dalam perkembangan kepribadian didalam sebuah lingkungan. Melalui teorinya Erikson memberikan sesuatu yang baru dalam mempelajari mengenai perilaku manusia dan merupakan suatu pemikiran yang sangat maju guna memahami persoalan/masalah psikologi yang dihadapi oleh manusia pada jaman modern seperti ini. Oleh karena itu, teori Erikson banyak digunakan untuk menjelaskan kasus atau hasil penelitian yang terkait dengan tahap perkembangan, baik anak, dewasa, maupun lansia.
Syamsu Yusuf (2007)  menyatakan bahwa Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.
Pada usia ini anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri (egosentris) kepada sikap yang kooperatif (bekerja sama) atau sosiosentris (mau memperhatikan kepentingan orang lain). ada masa remaja berkembang ”social cognition”, yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Ramaja memahami orang lain sebagi individu yang unik, baik menyangkut sifat pribadi, minat,nilai-nilai, maupun perasaannya.
Pada masa ini juga berkembang sikap ”conformity”, yaitu kcenderungan untuk menyerah atau megikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran atau keinginan orang lain (teman sebaya). Selama masa dewasa, dunia sosial dan personal dari individu menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Pada masa dewasa ini, individu memasuki peran kehidupan yang lebih luas. Pola dan tingkah laku sosial orang dewasa berbeda dalam beberapa hal dari orang yang lebih muda. Perbedaan tersebut tidak disebabkan oleh perubahan fisik dan kognitif yang berkaitan dengan penuaan, tetapi lebih disebabkan oleh peristiwa-peristiwa kehidupan yang dihubungkan dengan keluarga dan pekerjaan. Selam periode ini orang melibatkan diri secara khusus dala karir, pernikahan dan hidup berkeluarga. Menurut Erikson, perkembangan psikososial selama masa dewasa dan tua ini ditandai dengan tiga gejala penting, yaitu keintiman, generatif dan integritas.

d.      Aspek Moral dan Keagamaan
Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain ( Santrock,1995).
Teori Kohlberg tentang perkembangan moral merupakan perluas, modifikasi, dan redefeni atas teori Piaget. Menurut Kohlberg perkembangan moral manusia itu terjadi dalam tiga tingkatan besar, yakni:
1.      Tingkat moralitas prakonvesional, yaitu ketika manusia berada dalam fase perkembangan moral sebagai kesepakatan tradisi sosial.
2.      Tingkat moralitas konvesional, yaitu ketika manusia menjelang dan mulai memasuki fase perkembangan yuwana (usia 10-13 tahun) yang sudah menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial.
3.      Tingkat moralitas pascakonvesional, yaitu ketika manusia telah memasuki fase perkembangan yuwana dan pascayuwana (usia 13 tahun ke atas) yang memandang moral lebih dari sekedar kesepakatan tradisi sosial.
Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Allah SWT, adalah dia dianugerahi fitrah (perasaan dan kemampuan) untuk mengenal Allah dan melakukan ajaran-Nya. Dalam kata lain, manusia dikaruniai insting religius (naluri beragama), karena memiliki fitrah ini kemudian manusia dijuluki sebagai “Homo Devinans”, dan “Homo Religious”, yaitu makhluk yang bertaruh atau beragama.
Pada masa ini, perkembangan penghayatan keagamaanya di tandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Sikap keagamaan bersifat reseptif disertai dengan pengertian.
2.      Pandangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara rasional berdasarkan kaidah logika yang berpedoman pada indikator alam semesta sebagai manifestasi dari keagungannya.
3.      Penghayatan secara rohaniyah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan ritual diterimanya sebagai keharusan moral.
Berkaitan dengan pendidikan dan penanaman akhlak pada anak, Rasulullah SAW bersabda “Didiklah Anak – Anak Kalian, Sesungguhnya Mereka Diciptakan Menjadi Generasi Yang Berbeda Dengan Generasi Zaman Kalian” (HR Tirmidzi).

Ruang lingkup dan cakupan pendidikan agama islam untuk anak diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang cermat dalam memilih materi dan strategi pendekatan yang tepat. Hal ini didasarkan kepada pertimbangan bahwa tingkat pemahaman anak adalah terbatas. Setidaknya terdapat dua kelompok besar bidang pengembangan dalam pendidikan agama islam untuk anak, yaitu bidang pembentukan perilaku melalui pembiasaan dan pengembangan moral dan nilai – nilai agama.

Sunday, March 9, 2014

HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK DENGAN BELAJAR

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti, bahwa hasil atau gagalnya pencapai tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), “perkembangan” adalah perihal berkembang. Selanjutnya, kata “berkembang” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ini berarti mekar terbuka atau membentang; menjadi besar, luas, dan banyak, serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya. Dengan demikian, kata “berkembang” tidak saja meliputi aspek yang bersifat abstrak seperti pikiran dan pengetahuan, tetapi juga meliputi aspek yang bersifat konkret.
Maka, hubungan timbal balik antara perkembangan peserta didik dengan belajar adalah seperti berikut:
a.      Pengaruh perkembangan terhadap belajar
Pengaruh perkembangan terhadap belajar itu sangat banyak, seperti yang telah dipaparkan minggu lalu, bahwa perkembangan terhadap peserta didik itu terdapat 8 aspek, yaitu aspek jasmani, intelegensi, emosi, bahasa, kepribadian, sosial, moral dan keagamaan. Aspek-aspek perkembangan ini tentu berpengaruh terhadap belajar.
1.      Pengaruh aspek jasmani terhadap belajar
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti belajar. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertai pusing kepala berat misalnya, dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang atau tidak berbekas. Kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan indera penglihat, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan, khususnya yang disajikan di kelas. Daya pendengaran dalam penglihatan siswa yang rendah, umpamanya, akan menyulitkan sensory register dalam menyerap item-item informasi yang bersifat echoic dan iconic (gema dan citra). Akibat negatif selanjutnya adalah terhambatnya proses informasi yang dilakukan oleh sistem memori siswa tersebut.(Muhibbin Syah,2012)
2.      Pengaruh aspek intelegensi terhadap belajar
Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dnegan lingkungan dengan cara yang tepat (Reber,1988). Jadi, intelegensi sebenarnya bukan persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ-oran tubuh lainnya. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa peran otak dalam hubungannya dengan intelegensi manusia lebih menonjol daripada peran organ-organ tubuh lainnya, lantaran otak merupakan “menara pengontrol” hampir seluruh aktivitas manusia.
Tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa tak dapat diragukan lagi, sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin kecil peluang untuk memperoleh sukses.
Setiap calon guru dan guru profesional sepantasnya menyadari bahwa keluarbiasaan intelegnsi siswa, baik yang positif seperti superior maupun yang negatif seperti borderline, lazimnya menimbulkan kesulitan belajar siswa yang bersangkutan. Di satu sisi siswa yang cerdas sekali akan merasa tidak mendapatkan perhatian yang memadai dari sekolah karena pelajaran yang disajikan terlampau mudah baginya. Akbitanya, ia menjadi bosan dan frustasi karena tuntuan kebutuhan keingintahuannya merasa dibendung secara tidak adil. Di sisi lain, siswa yang bodoh sekali akan merasa sangat payah mengikuti sajian pelajaran karena terlalu sukar baginya. Karenanya siswa itu sangat tertekan, dan akhirnya merasa bosan dan frustasi seperti yang dialami rekannya yang luar biasa positif tadi.
3.      Pengaruh emosi terhadap belajar
Emosi berpengaruh besar pada kualitas dan kuantitas belajar ( Meiner dalam Khodijah, 2009:174). Emosi yang positif dapat mempercepat proses belajar dan mencapai hasil belajar yang lebih baik, sebaliknya emosi yang negatif dapat memperlambat belajar atau bahkan menghentikannya sama sekali. Penjelasan tentang hal ini dapat diambil dari teori tentang struktur dan cara kerja otak, yaitu Otak Triune. Menurut teori ini, otak manusia terdiri dari manusia terdiri dari tiga bagian dan pemanfaatan seluruh bagian otak dapat membuat belajar lebih cepat,lebih menarik, dan lebih efektif. Dari ketiga bagian otak tersebut, bagian otak yang memainkan peran dalam belajar adalah neokoerteks, sedang yang memainkan peran besar dalam emosi adalah sistem limbik. Jika siswa mengalami emosi positif, maka sel-sel saraf akan mengirim impuls-impuls positif ke neokorteks dan proses belajar pun dapat terjadi. Sebaliknya, jika siswa mengalami emosi negatif, maka tertutup kemungkinan untuk timbulnya impuls-impuls yang mendorong belajar, tetapi yang terjadi adalah meningkatnya fungsi mempertahankan diri terhadap emosi yang tidak menyenangkan. Akibatnya, proses belajar menjadi lamban atau bahkan terhenti.
Karena itu, pembelajaran yang berhasil haruslah dimulai dengan menciptakan emosi yang positif pada diri pelajar. Jika siswa mengalami emosi positif, mereka dapat menggunakan neokorteks untuk tugas-tugas belajar. Untuk menciptakan emosi positif pada diri siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Lingkungan yang dimaksud di sini mencakup lingkungan fisik dan lingkungan psikologis. Lingkungan fisik menmcakup penataan ruang kelas dan penataan alat bantu belajar, sedang lingkungan psikologis mencakup penggunaan musik untuk meningkatkan hasil belajar. Penataan ruang kelas, seperti penataan tempat duduk, pajangan, dan penyediaan wewangian, memainkan peranan penting dalam menciptakan emosi positif dalam belajar. Bayangkan jika siswa masuk ke ruang kelas yang pengab dan bau dengan dinding yang kosong atau pajangan, serta susunan bangku yang membosankan, maka sulit diharapkan mereka dapat mencapai hasil belajar yang optimal.
            Selain penataan ruang kelas, penggunaan alat bantu belajar yang menarik dan musik yang lembut juga sangat membantu dalam penciptaan lingkungan belajar yang menyenangkan dan dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Penggunaan alat bantu menimbulkan “rasa” yang lebih baik dari penjelasan yang diberikan oleh guru, sedang irama, ketukan, dan keharmonisan musik mempengaruhi gelombang otak dan detak jantung, juga membangkitkan perasaan dan ingatan ( Lozanov seperti yang dikutip oleh DePorter, Reardon, dan Singer-Nourie, (dalam Khodijah, 2009: 176). Dalam hal ini, penelitian menunjukkan bahwa jenis musik yang tepat untuk merangsang dan mempertahankan lingkungan belajar yang optimal adalah musik barok (Bach, Corelli, Tartini, Vilvadi, Handel, Pachelbel, Mozart) dan musik klasik (Satie, Rachmaninoff). Karena struktur kord melodi dan instrumentasi kedua jenis musik tersebut membantu tubuh untuk mencapai keadaan waspada tetapi relaks (Schuter dan Gritton, seperti yang dikutip oleh Lozanov, seperti yang dikutip oleh DePorter, Reardon, dan Singer Nourie, 2000 (dalam Khodijah, 2009:176).
         Hal yang tidak kalah pentingnya dalam penciptaan  emosi positif adalah dengan penciptaan kegembiraan belajar. Menurut Meier, (dalam Khodijah, 2009:176), kegembiraan belajar seringkali merupakan penentu utama kualitas dan kuantitas belajar yang dapat terjadi. Kegembiraan bukan berarti menciptakan suasana kelas yang ribut dan penuh hura-hura. Akan tetapi, kegembiraan berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh dan terciptanya makna, pemahaman, dan nilai yang membahagiakan pada diri si pemelajar.
4.      Pengaruh bahasa terhadap belajar
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:
a.       Proses jadi matang, dengan perkataan lain anak itu menjadi matang (organ-organ suara/bicara) sudah berfungsi untuk berkata-kata.
b.      Proses belajar, yang berarti bahwa anak yang telah matang untuk berbicara lalu mempelajari bahasa orang lain dengan jalan meniru ucapan atau kata-kata yang didengarnya.
Kedua proses ini berlangsung sejak masa bayi dan kanak-kanak, sehingga pada usia anak memasuki sekolah dasar, ia sudah sampai pada tingkat: (1) dapat membuat kalimat yang lebih sempurna; (2) dapat membuat kalimat majemuk; (3) dapat menyusun dan mengajukan pertanyaan.
Di sekolah diberikan pelajaran bahasa yang dengan sengaja menambah pembendaharaan kata-katanya, mengajar  menyusun struktur kalimat, peribahasa, kesustraan, dan keterampilan mengarang. Dengan dibekali pelajaran bahasa ini, diharapkan peserta didik dapat menguasai dan mempergunakannya sebagai alat untuk:
a.       Berkomunikasi dengan orang lain;
b.      Menyatakan isi hatinya;
c.       Memahami keterangan (informasi) yang diterimanya;
d.      Berfikir (menyatakan gagasan);
e.       Mengembangkan kepribadiannya, seperti menyatakan sikap dan keyakinannya.
5.      Pengaruh sosial terhadap belajar
Berkat dipengaruhinya perkembangan sosial, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebaya maupun dengan masyarakat sekitarnya. Dalam proses belajar di sekolah, kematangan perkembangan sosial ini dapat dimanfaatkan atau dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuhkan tenaga fisik (seperti membersihkan kelas dan halaman sekolah),  maupun tugas yang membutuhkan fikiran (seperti merencanakan kegiatan kemping, peringatan hari-hari besar keagamaan, membuat laporan study-tour).
Tugas-tugas kelompok ini harus memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk menunjukkan prestasinya, tetapi juga diarahkan untuk mencapai tujuan bersama. Dengan melaksanakan tugas kelompok, peserta didik dapat belajar tentang sikap dan kebiasaan bekerjasama, saling menghormati, bertenggang rasa, dan bertanggung jawab.
6.      Pengaruh moral terhadap belajar
Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain ( Santrock,1995).
Antara moral peserta didik dengan hasil belajar terdapat hubungan yang saling mempengaruhi. Bagi peserta didik yang memiliki  moral yang baik maka dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah akan baik karena anak atau peserta didik tersebut dalam kehidupan sehari-harinya bermoral baik. Begitu juga dengan anak atau peserta didik yang moralnya tidak baik dalam melaksanakan proses pembelajaran di sekolah peserta didik tersebut akan bermalas-malasan. Untuk meningkatkan prestasi peserta didk dalam  pembelajaran di sekolah, sangat ditentukan oleh moral peserta didik tersebut.
Oleh karena itu peranan orang tua dan guru sebagai pendidik harus mencerminkan moral atau tingkah laku yang baik kepada anak atau peserta didik, karena anak atau peserta didik yang memiliki rasa ingin tahu yang besar tersebut akan mencoba apa yang mereka liat dalam kehidupan sehari-hari mereka.
7.      Pengaruh Keagamaan terhadap belajar
Periode usia sekolah dasar merupakan masa pembentukan nilai-nilai agam sebagai kelanjutan dari periode sebelumnya. Oleh karena itu kualitas seorang anak, akan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan atau pendidikan yang diterimanya. Dalam kaitannya dengan hal ini, pendidikan agama di sekolah dasar mempunyai peranan sangat penting. Oleh karena itu, pendidikan agama (pengajaran, pembiasaan, dan penanaman nilai-nilai keagamaan di sekolah dasar harus menjadi perhatian semua pihak yang terlibat dalam pendidikan di SD, dalam hal ini bukan hanya guru agama, akan tetapi kepala sekolah, dan guru-guru lain. Apabila smeua pihak yang terlibat itu telah memberikan contoh bagaimana melaksanakan nilai-nilai agama yang baik, maka pada diri para peserta didik akan berkembang sikap yang positif terhadap agama, dan pada gilirannya akan berkembang pula kesadaran beragama pada dirinya.
Dalam kaitannya dengan pemberian materi agama, kepada peserta didik disamping mengembangkan pemahamannya juga memberikan latihan atau pembiasaan keagamaan yang menyangkut ibadah, seperti melaksanakan solat, berdo’a, membaca Al-Qur’an (kepada peserta didik diwajibkan untuk menghafal surat-surat pendek berikut terjemahannya). Disamping membiasakan melaksanakan ibadah tersebut, juga perlu dibiasakan melaksanakan ibadah sosial, yaitu menyakut akhlak terhadap sesama manusia, seperti hormat kepada orang tua, guru dan orang lain; memberikan bantuan kepada orang yang memerlukan pertolongan, menyayangi fakir-miskin, memelihara kebersihan dan kesehatan; bersikap jujur; dan bersikap amanah (bertanggung jawab).

b.      Pengaruh belajar terhadap perkembangan
Belajar juga memainkan peran penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia (bangsa) di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju karena belajar. Akibat persaingan tersebut, kenyataan tragis bila pula terjadi karena belajar. Contoh, tidak sedikit orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk membuat orang lain terpuruk atau bahkan menghancurkan kehidupan orang tersebut.
Kenyataan tragis lainnya yang lebih parah juga terkadang muncul karena hasil belajar. Hasil belajar pengetahuan dan teknologi tinggi, misalnya, tak jarang digunakan untuk membuat senjata pemusnah sesama umat manusia. Alhasil kinerja akademik yang merupakan hasil belajar itu, disamping membawa manfaat, terkadang juga membawa madarat. Akan hilangkah arti penting upaya belajar karena timbulnya tragedi-tragedi tadi?
Meskipun ada dampak negatif dari hasil belajar sekelompok manusia tertentu, kegiatan belajar tetap memiliki arti penting. Alasannya, seperti yang telah dikemukakan di atas, belajar itu berfungsi sebagai alat mempertahankan kehidupan manusia. Artinya, dengan ilmu dan teknologi hasil belajar kelompok manusia tertindas itu juga dapat digunakan untuk membangun benteng pertahanan. Iptek juga dapat dipakai untuk membuat senjata penangkis agresi sekelompok manusia tertentu yang mungkin hanya dikendalikan oleh segelintir oknum, yakni manusia-manusia yang mungkin bernafsu serakah atau mengalami gangguan psychopathy yang berwatak merusak dan antisosial (Reber,1998).
Selanjutnya, dalam perspektif keagamaan pun ( dalam hal ini Islam), belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang beriman agar memperoleh ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan derajat kehidupan mereka. Hal ini dinyatakan dalam QS Mujadalah:11 yang berbunyi:

Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4
Artinya: “.... niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Ilmu dalam hal ini tentu daja tidak hanya berupa pengetahuan agama tetapi juga berupa pengetahuan yang relevan dengan tuntutan kemajuan zaman. Selain itu, ilmu tersebut juga harus bermanfaat baggi kehidupan orang banyak di samping bagi kehidupan diri pemilik ilmu itu sendiri.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tadi, anda selaku calon guru atau guru yang profesional seyogianya melihat hasil belajar siswa dari berbagai sudut kinerja psikologis yang utuh dan menyeluruh. Sehubungan dengan ini, seorang siswa yang menempuh proses belajar, idealnya ditandai oleh munculnya pengalaman-pengalaman psikologis baru yang positif. Pengalaman-pengalaman yang bersifat kejiwaan tersebut diharapkan dapat mengembangkan aneka ragam sifat, sikap, dan kecakapan yang konstruktif, bukan kecapakan yang destruktif (merusak).
Untuk mencapai hasil belajar yang ideal seperti di atas, kemampuan para pendidik teristimewa guru dalam membimbing belajar murid-muridnya amat dituntut. Jika guru dalam keadaan siap dan memiliki profisiensi (berkemampuan tinggi) dalam menunaikan kewajibannya, harapan terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas sudah tentu akan tercapai.


REFERENSI

Yusuf, Syamsu.1992.Psikologi Pendidikan.Jakarta: CV Andira Bandung

Syah, Muhibbin.2012.Psikologi Belajar.Jakarta: PT Rajagrafindo Persada